narkoba

Posted in Uncategorized on March 6, 2008 by diandeeloven

Saat ini, narkoba sudah banyak di salahgunakan.Banyak generasi penerus bangsa yang terjerumus ke dalam penyalahgunaan penggunaan narkoba.Akibatnya, mereka pun ketergantungan dan rasanya sangat sulit jika tidak menggunakan narkoba.Semakin hari, mereka semakin membutuhkan narkoba yang lebih banyak.Dan mereka pun menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkannya.

Dalam hal ini, orang tua yang memiliki anak usia remaja, di harapkan berkomunikasi yang baik dengan anaknya.Karena orang tua merupakan orang terdekat dengan mereka selain teman sebaya.Dan orang tua harus memantau semua aktifitas yang di lakukan anaknya.Mengupayakan hal-hal yang positif yang akan membangun pribadi anak.

global warming

Posted in Uncategorized on March 1, 2008 by diandeeloven

Secara umumnya suhu purata Bumi tidak begitu stabil, malah berubah mengikut masa, seperti yang telah dibuktikan melalui analisis lapisan geologi. Planet kita adalah beberapa puluh darjah lebih sejuk pada 20 000 tahun yang lepas, iaitu pada puncak zaman salji glasier. Perubahan suhu ini sebenarnya amat perlahan, suhu berubah sebanyak 0.2 darjah dari tahun 1000 sehingga hujung kurun ke-19.

Fakta yang merisaukan komuniti antarabangsa ialah betapa cepatnya suhu berubah sekarang ini, kecepatan perubahan yang tidak pernah berlaku di zaman dahulu. Sejak hujung kurun ke-19, lebih kurang dalam seratus tahun saja, suhu purata telah naik 0.6 darjah. Simulasi komputer pula menunjukkan bahawa pemanasan akan menjadi lebih cepat dan suhu purata boleh meningkat sebanyak 1.4 hingga 5.8 darjah pada hujung kurun ke-21. Fenomena ini kita panggil pemanasan global.

Kesan rumah hijau

Variasi suhu atmosfera secara umumnya berkaitan dengan beberapa faktor seperti perubahan aktiviti Matahari, atau kelajuan putaran Bumi. Tetapi, kebanyakan pakar-pakar sains percaya bahawa pemanasan global adalah disebabkan, terutamanya, oleh kesan rumah hijau. Kesan ini terjadi apabila sebahagian besar tenaga dari Matahari yang sampai kepermukaan Bumi tidak dipantulkan semula keluar ke angkasa lepas, malah diserapi oleh atmosfera kita.

Seperti yang telah kita dapati, menurut hukum Wien, sifat sinaran dari satu objek bergantung kepada suhunya. Matahari yang mempunya suhu permukaan 6000 darjah, bersinar terutamamya didalam gelombang tampak dimana tenaganya masuk secara mudahnya ke atmosfera kita. Tetapi, disebabkan suhu Bumi jauh lebih rendah dari suhu Matahari, planet kita mengeluarkan kembali tenaga ini dalam bentuk sinaran inframerah. Gas-gas tertentu seperti karbon-dioksida, methane dan nitrogen oksida, yang juga lutsinar dalam gelombang tampak, adalah legap dalam sinaran inframerah. Ciri-ciri mereka ini menghalang tenaga dari keluar semula keangkasa lepas. Mereka menyerap tenaga tersebut menjadikan atmosfera kita panas. Sebahagian besar tenaga solar ini diserap oleh atmosfera bawahan,seperti yang terjadi keatas planet Zuhrah.

Besar kemungkinan kesan rumah hijau dan pemanasan global ini, yang mencepat sejak kurun ke-19, berpunca dari kesan aktiviti manusia keatas alam sekitar. Kebanyakan gas yang mempunyai ciri-ciri kesan rumah hijau telah dilepaskan ke atmosfera melalui aktiviti-aktiviti moden yang menggunakan fossil fuel di dalam industri dan kenderaan. Ia juga boleh disebabkan oleh aktiviti agrikultur tertentu seperti ternakan lembu. Kita jangka bahawa gas karbon-dioksida telah dinaikkan sebanyak 30 peratus sejak bermulanya era industri, iaitu satu sumbangan besar yang memburukkan kesan rumah hijau.

Sejak 150 tahun yang lepas, glasier di banjaran gunung Alps, seperti glasier Aletsch di Switzerland, telah hilang separuh jisimnya. Kredit : O. Esslinger
Sejak 150 tahun yang lepas, glasier di banjaran gunung Alps, seperti glasier Aletsch di Switzerland, telah hilang separuh jisimnya. Kredit: O. Esslinger

Kesan dari pemanasan global

Seperti yang telah ditunjukkan, pemanasan global menyebabkan glasier mencair dan tahap air laut meningkat sebanyak beberapa puluh sentimeter. Ketebalan ais di kutub juga menjadi kurang. Sejak kurun ke-21, fenomena ini meningkat semakin cepat, dimana kesannya kelihatan semakin ketara, terutamanya peningkatan tahap air laut dan perubahan cuaca secara ekstrim yang melibatkan kemarau dan kitaran presipitasi yang dahsyat.

Kesan ini dapat dirasai oleh manusia dengan kekerapan banjir, kemarau panjang, kekurangan air minuman, sebaran penyakit malaria, kekurangan zon tepi laut atau kekurangan bilangan pulau. Dalam jangkamasa yang panjang, dengan pencairan ais di Greenland yang menyebabkan tahap air laut naik sebanyak 6 meter, kita dapat meramalkan kehilangan sebahagian besar zon tepi laut dunia.

Dihadapkan dengan ancaman tersebut dan keperluan usaha untuk menangani masalah ini, komuniti antarabangsa didapati agak segan. Protokol Kyoto telah dirundingkan dalam tahun 1997 bertujuan untuk memaksa negara industri untuk mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mengurangkan pencemaran udara yang memburukkan kesan rumah hijau. Hasil dari keputusan Russia untuk menyertai protokol ini, usaha ini ada peluang untuk membawa hasil. Tetapi, tanpa penyertaan Amerika Syarikat, yang buat masa ini merupakan pencemar udara terbesar di dunia, hasil usahan dari protokol ini agak terhad. Disebabkan perjanjian ini tidak begitu ambitious, kami percaya ia tidak begitu mampu untuk melambatkan pemanasan global dengan berkesan. Oleh yang demikian, bencana yang amat dahsyat masih mengancam.

About UAN

Posted in Uncategorized on February 28, 2008 by diandeeloven

Tahun lalu rasanya sudah mulai banyak orang ribut tentang UAN, banyak yang kontra begitu, dan saya waktu itu ‘gak habis pikir:”Kok orang endonesa ‘gak mau kemampuannya distandardisasi ’sih?” Banyak diskusi informal yang saya lakukan (baik di warung kopi maupun ruang diskusi di kampus) membahas masalah ini.

Kesimpulan yang saya dapat dari mereka yang Kontra UAN (saya singkat saja menjadi KUAN) adalah materi ujiannya yang perlu ditinjau, apakah siswa yang punya nilai rata-rata dibawah standar pasti lebih goblok?.(ehm maaf). Apalagi jika siswa itu ternyata berasal dari penjuru endonesia yang ‘gak punya perpustakaan, apalagi laboratorium yang butuh biaya banyak dan muskil bisa dipenuhi dengan anggaran pendidikan yang minim (belum lagi dikorup). Mana mungkin bentuk ujian yang berbasis hafalan bisa mengukur kemampuan berpikir, dst..dst.dst!

Intinya saya yang Setuju UAN (saya singkat lagi ya jadi SUAN) selalu dipojokkan dalam diskusi-diskusi itu…

Tapi saya tidak menyerah! (walau terlupakan satu tahun) Eh tahun ini ribut-ribut lagi! Ada anak yang sudah ketrima sekolah di Luar Negeri (bukan swasta ‘lho) gagal lulus karena nilai matematikanya tidak memenuhi standar… Terus orang-orang pada seru minta ujian ulang…Pak Wapres kita yang imut-imut tidak setuju…Program paket C ternyata pelaksanaan ujiannya gak cocok dengan jadwal penerimaan siswa/mahasiswa baru…kata pejabat Diknas masalahnya ruwet dst..dst.dst.

Ah, saya cuma ingat sama salah satu bentuk standardisasi yang ternyata semua orang bisa setuju: TOEFL (Test Of English as a Foreign Language). Tidak peduli belajar sama siapa, dimana, gratisan atau berbayar, yang penting kalo nilai TOEFL-nya 600 ke atas, pasti lumayan bisa cas cis cus atau setidaknya ngerti dengan baik kalo baca artikel berbahasa inggris.

Nah! Ini dia bentuk pelaksanaan UAN yang cocok bagi hati saya, kenapa:

  1. Tidak mementingkan latar belakang belajarnya, sehingga memacu pembelajaran luar sekolah dna meringankan beban negara dalam menyelenggarakan pendidikan.
  2. Soalnya buanyak (slang “banyak” menurut orang surabaya), jadi walaupun mau menghapal jawaban soal, Insya Allah gak berguna, lebih baik belajar teorinya dengan baik.
  3. Bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja (walaupun test International TOEFL setau saya ada jadwalnya dan harus ke Jakarta, mohon koreksi).
  4. Kalau nilainya diragukan, lembaga/sekolah tujuan bisa dengan mudah mengadakan test melalui mitra swasta yang dipercaya.
  5. Murah. Kecuali International TOEFL yang harganya lebih dari sejuta perak (tapi yang ikutan memang hanya mereka yang mau going abroad, dan biasanya dibayarin beasiswa) test macam gini bisa ‘cuma’ 40-60 ribuan.

Bentar dulu ‘Mas! Apa iya UAN bisa diadaken seperti TOEFL gitu?

Menurut logika dan kata hati saya ‘mah bisa!

How?
1.
Kuncinya pada dimungkinkannya teknologi Internet sampai ke kota kabupaten seluruh endonesa. Apa hubungannya? Gini…kalo para pendidik negeri ini yang sudah dipercaya bisa bikin soal UAN dengan baik “disuruh”/”dipaksa” bikin soal dengan jumlah yang banyak (sehingga pada tahun pertama bisa terkumpul 100 ribuan soal untuk setiap matapelajaran), kemudian selain di UAN kan dengan cara konvensional juga disimpan dalam database soal yang bisa diakses oleh katakanlah 50 komputer yang online di detiap kota kabupaten, maka siswa yang nilai UAN konvensionalnya rendah bisa ikut test UAN berbasis komputer ini kapan saja (tentunya berbayar dengan nilai rupiah yang logis). Setiap taun soalnya bakalan nambah sehingga jawaban menghafal soal tambah tidak mungkin.

Tanggapan skeptis tentang UAN susulan hanya bikin malas siswa jadi gak berlaku lho. Kita harus bisa terima kalo gak semua orang daya tangkap pelajaran dan ketangguhan psikologinya sama. Selama semangat belajar masih ada, siswa yang nilai UANnya jeblok bisa ikut test lagi sewaktu dia rasa siap. Kalo masih jelek, test lagi, test lagi, test lagi, sampe masuk standar. Saya punya teman yang waktu mau sekolah pascasarjana terhambat di nilai TOEFLnya jeblok banget, terus dia belajar keras dan test berulang-ulang sampe akhirnya nilainya cukup. Apa kita boleh bilang dia males? goblok? Enggak kan…

Bahkan dengan model UAN seperti ini, mereka yang belajar otodidak (banyak lho yang gak percaya sama pendidikan bangsa ini, baik negri maupun swasta sehingga lebih senang belajar di rumah-bahkan beli modul belajar dari luar seharga 2000 dolar per semester!) bisa punya nilai UAN–kalo mau sih.

2.
Pengadaan komputernya gimana? Apa gak bikin pusing dengan segala mark up dan korupsi?

Nah, ini dia peran swasta bisa berperan dalam acara ini. Bukan dimaksudkan dengan swasta bikin ruang test dan komputernya, itu ‘mah sama aja dengan tender2an yang penuh mark up dan korupsi itu. Maksud saya adalah melibatkan sekolah/perguruan tinggi yang memang sudah punya komputer banyak (di P.Jawa-Sumatera). Kalau di daerah, ya saya memang belum bisa usul ide selain tender itu (KPK tambah kerjaan ya?) Tapi kalo mau maju memang harus kerja keras!

3.
Apa gak akan di-joki-in?

Saya punya pengalaman waktu sekolah sarjana dulu: 1 angkatan dibawah saya ada yang dicurigai bisa masuk dengan cara di-joki-in. Sulit membuktikannya saat masuk, tapi akhirnya ketauan juga saat nilai ujiannya pada jeblok semua. Departemen memanggil ybs. dan setelah interogasi singkat, ybs mengaku dan memang merasa tidak sanggup lagi meneruskan sekolah–gak ke-otak-an / teu kauteukan kata orang sunda.

Kalo saja bentuk UAN bisa dilakukan online (tentunya oleh badan yang diberi akses) maka kalo ada siswa/mahasiswa yang diragukan kejujuran UANnya, pihak sekolah/kampus bisa mengadakan test khusus untuk membuktikan kecurigaan itu.

Eh, kalo kasus terburuknya adalah: ternyata sebetulnya ybs. sebetulnya memang pake joki waktu UAN, terus saat di uji ulang nilainya bagus gimana? Ya, udah, menurut saya sih ybs tetap layak untuk meneruskan pendidikannya seperti biasa. ‘Lho! Kok?

Gini, mari kita kembali merenungkan hakekat ujian yang merupakan bentuk standardisasi, bukan pilihan hidup mati seperti sekarang: Kalo sekarang gak lulus, berarti ‘you goblok dan apes seumur-umur. Padahal yang lulus juga belum tentu hidupnya sejahtera ya?

Ah, kenapa kita jadi bingung. Penyelewengan itu pasti tetap ada, tugas semua orang lah untuk selalu menekan dan menyulitkan penyelewengan itu. Bahkan hal ini yang bisa jadi bahan penelitian orang-orang pinter di bidang biometric untuk menemukan metoda identifikasi individual yang sulit dijebol.

Closing sentences:

  1. Kalo UAN susulan bisa diadakan dalam bentuk ujian online lewat komputer di kota kabupaten, banyak masalah bisa selesai dan sekaligus memicu banyak penelitian di wilayah e-education.
  2. Janganlah terlalu men-sakral-kan ujian yang diadakan negara dengan pelaksanaannya yang hanya 1 tahun sekali.
  3. Jangan buat hidup seseorang hancur karena satu ujian saja.
  4. Pendidikan harusnya jangan terpaku pada umur: 6 taun SD, 12 taun SMP, 15 taun SMA, 18 taun kuliah. Saya ingat film “Patch Adam” yang dibintangi Robin William, kisah nyata tentang seorang laki-laki yang telah berumur (bahkan sempat dirawat di RS Jiwa) masuk sekolah kedokteran dan walaupun “melawan” metoda pendidikan kedokteran standar, tetap bisa lulus jadi dokter, bahkan kliniknya sangat terkenal karena penekanannya pada empati pada semua pasiennya.

Hello world!

Posted in Uncategorized on February 28, 2008 by diandeeloven

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!